<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789</id><updated>2011-10-21T07:29:25.510-07:00</updated><category term='Berita'/><title type='text'>Berita Seputar Ilmu Geologi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-4179305008770050114</id><published>2008-03-15T17:16:00.000-07:00</published><updated>2008-03-16T00:12:41.827-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Waspadailah Tanda-Tanda Datangnya Tsunami!</title><content type='html'>Gelombang tsunami memiliki beragam tanda atau fenomena alamiah. Semua itu berdasarkan hasil yang dikumpulkan ilmuwan dari berbagai hasil penelitian dan dokumentasi mengenai bencana itu khususnya yang berasal dari negara rawan tsunami seperti Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari hasil laporan dokumen lama serta prasasti yang ada di Jepang, serta pengalaman dari hasil survei lapangan memperlihatkan beberapa tanda alami sebelum datangnya tsunami," kata Ketua Kelompok Riset Tsunami Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Eng Hamzah Latief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eng Hamzah Latief memaparkan, tanda-tanda tersebut adalah gerakan tanah, tsunami forerunners atau riakan air laut, tarik surutnya muka air laut, tsunami bore atau pembentukan dinding muka air di tengah laut, timbulnya suara abnormal, pengamatan visual ke arah lepas pantai, serta pengamatan melalui indera penciuman dan perasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan tanah, ujar dia, timbul karena penjalaran gelombang di lapisan bumi padat akibat gempa, sedangkan tsunami forerunners adalah deretan riak muka laut yang mendahului kedatangan tsunami utama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hamzah menuturkan, menurut sejumlah pakar dari Jepang, tsunami forerunners tidak selamanya muncul. Seperti di pantai utara dan selatan benua Amerika, fenomena tersebut tidak hadir karena kemiringan alami dan inisial tsunami terhadap pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedangkan kehadiran forerunners di tempat lain seperti di Jepang adalah akibat terjadinya resonansi atau gelombang ikutan tsunami awal di teluk dan di paparan benua sebelum tsunami utama datang," kata peraih gelar doktor spesialisasi tsunami dari Universitas Tohoku, Jepang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai tsunami bore atau dinding muka air di laut, Hamzah menjelaskan bahwa untuk daerah landai yang sedimennya tergerus tsunami maka dinding air tersebut akan berwarna hitam atau kelabu, sedangkan untuk daerah berkarang maka dinding itu berwarna putih yang dipenuhi oleh busa air laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, lanjutnya, banyak dokumen lama di Jepang yang melaporkan timbulnya suara abnormal sebelum kedatangan tsunami seperti yang terukir pada Monumen Tsunami di Prefektur Aomori yang berbunyi "Gempa, suara menderu, kemudian tsunami".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini menganjurkan agar melakukan evakuasi jika terdengar suara abnormal setelah terjadinya gempa," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamzah mengungkapkan, suara aneh juga diceritakan oleh saksi mata di Biak (1996), Banyuwangi (1994), dan Flores (1992) di mana suara itu dideskripsikan antara lain seperti bunyi helikopter, suara drum band, serta desingan roket. Dengan fakta ini maka jika terdengar suara drum band apalagi yang misterius setelah gempa, kita tidak bisa keburu bergoyang senang dulu menganggap hiburan telah datang, hal ini malah menandakan bencana datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan lebih lanjut, suara tersebut berhubungan dengan posisi tsunami saat menjalar atau saat menghantam tebing batu dan pantai yang landai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terdapat pula saksi mata yang berkata, sesaat sebelum tsunami datang terjadi angin dengan hawa agak dingin bercampur dengan bau garam laut yang cukup kuat, yang kemungkinan besar akibat tolakan air laut di lepas pantai," kata Hamzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua yang patut kita waspadai terutama di saat bencana gempa berkekuatan besar terus mendera negara kita ini. (kapanlagi}&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-4179305008770050114?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/4179305008770050114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=4179305008770050114' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/4179305008770050114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/4179305008770050114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/03/waspadailah-tanda-tanda-datangnya.html' title='Waspadailah Tanda-Tanda Datangnya Tsunami!'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-1597004171935266028</id><published>2008-03-07T00:51:00.000-08:00</published><updated>2008-03-07T00:58:09.835-08:00</updated><title type='text'>Pertambangan</title><content type='html'>&lt;p&gt;Pertambangan adalah rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian (mineral, batubara, panasbumi, migas). Paradigma baru Kegiatan Industri Pertambangan ialah mengacu pada konsep Pertambangan Yang Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan, yang meliputi :&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penyelidikan Umum (prospecting)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Eksplorasi : eksplorasi pendahuluan, eksplorasi rinci&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Studi kelayakan : teknik, ekonomik, lingkungan (termasuk studi amdal)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Persiapan produksi (development, construction)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penambangan (Pembongkaran, Pemuatan,Pengangkutan, Penimbunan)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Reklamasi dan Pengelolaan Lingkungan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengolahan (mineral dressing)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemurnian / metalurgi ekstraksi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemasaran&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Corporate Social Responsibility (CSR)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengakhiran Tambang (Mine Closure)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;Ilmu Pertambangan : ialah ilmu yang mempelajari secara teori dan praktek hal-hal yang berkaitan dengan industri pertambangan berdasarkan prinsip praktek pertambangan yang baik dan benar (good mining practice)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-1597004171935266028?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/1597004171935266028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=1597004171935266028' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/1597004171935266028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/1597004171935266028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/03/nikel-dari-wikipedia-indonesia.html' title='Pertambangan'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-7450891311633639101</id><published>2008-03-07T00:49:00.000-08:00</published><updated>2008-03-07T00:51:02.620-08:00</updated><title type='text'>Eksplorasi minyak bumi</title><content type='html'>&lt;div class="thumb tright"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="thumbinner" style="width: 182px;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Minyak_dalam_batuan.jpg" class="image" title="Gambar pori batuanAbu-abu adalah pasir Biru adalah air  Hitam adalah minyak"&gt;&lt;img alt="Gambar pori batuanAbu-abu adalah pasir Biru adalah air  Hitam adalah minyak" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/b/b7/Minyak_dalam_batuan.jpg/180px-Minyak_dalam_batuan.jpg" class="thumbimage" border="0" height="178" width="180" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div style="text-align: center;" class="thumbcaption"&gt; &lt;div class="magnify"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Minyak_dalam_batuan.jpg" class="internal" title="Perbesar"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;b&gt;Gambar pori batuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Abu-abu adalah pasir&lt;br /&gt;Biru adalah air&lt;br /&gt;Hitam adalah minyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Eksplorasi atau pencarian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_bumi" title="Minyak bumi"&gt;minyak bumi&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; merupakan suatu kajian panjang yang melibatkan beberapa bidang kajian kebumian dan ilmu eksak. Untuk kajian dasar, riset dilakukan oleh para &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Geologis" class="mw-redirect" title="Geologis"&gt;geologis&lt;/a&gt;, yaitu orang-orang yang menguasai ilmu kebumian. Mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas pencarian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon" title="Hidrokarbon"&gt;hidrokarbon&lt;/a&gt; tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perlu diketahui bahwa minyak di dalam bumi bukan berupa wadah yang menyerupai danau, namum berada di dalam pori-pori batuan bercampur bersama air. Ilustrasinya seperti gambar di bawah ini&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Kajian_Geologi" id="Kajian_Geologi"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Kajian Geologi&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara ilmu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Geologi" title="Geologi"&gt;geologi&lt;/a&gt;, untuk menentukan suatu daerah mempunyai potensi akan minyak bumi, maka ada beberapa kondisi yang harus ada di daerah tersebut. Jika salah satu saja tidak ada maka daerah tersebut tidak potensial atau bahkan tidak mengandung hidrokarbon. Kondisi itu adalah:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Batuan Sumber (Source Rock)&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yaitu batuan yang menjadi bahan baku pembentukan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon" title="Hidrokarbon"&gt;hidrokarbon&lt;/a&gt;. biasanya yang berperan sebagai batuan sumber ini adalah serpih. batuan ini kaya akan kandungan unsur atom &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karbon" title="Karbon"&gt;karbon&lt;/a&gt; &lt;b&gt;(C)&lt;/b&gt; yang didapat dari cangkang - cangkang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fosil" title="Fosil"&gt;fosil&lt;/a&gt; yang terendapkan di batuan itu. Karbon inilah yang akan menjadi unsur utama dalam rantai penyusun ikatan kimia &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon" title="Hidrokarbon"&gt;hidrokarbon&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Tekanan dan Temperatur&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk mengubah fosil tersebut menjadi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon" title="Hidrokarbon"&gt;hidrokarbon&lt;/a&gt;, tekanan dan temperatur yang tinggi di perlukan. Tekanan dan temperatur ini akan mengubah ikatan kimia karbon yang ada dibatuan menjadi rantai hidrokarbon.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Migrasi&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hirdokarbon yang telah terbentuk dari proses di atas harus dapat berpindah ke tempat dimana hidrokarbon memiliki nilai ekonomis untuk diproduksi. Di batuan sumbernya sendiri dapat dikatakan tidak memungkinkan untuk di ekploitasi karena &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon" title="Hidrokarbon"&gt;hidrokarbon&lt;/a&gt; di sana tidak terakumulasi dan tidak dapat mengalir. Sehingga tahapan ini sangat penting untuk menentukan kemungkinan eksploitasi hidrokarbon tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Reservoar&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adalah batuan yang merupakan wadah bagi hidrokarbon untuk berkumpul dari proses migrasinya. Reservoar ini biasanya adalah batupasir dan batuan karbonat, karena kedua jenis batu ini memiliki pori yang cukup besar untuk tersimpannya hidrokarbon. Reservoar sangat penting karena pada batuan inilah minyak bumi di produksi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Perangkap (Trap)&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sangat penting suatu reservoar di lindungi oleh batuan perangkap. tujuannya agar &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon" title="Hidrokarbon"&gt;hidrokarbon&lt;/a&gt; yang ada di reservoar itu terakumulasi di tempat itu saja. Jika perangkap ini tidak ada maka hidrokarbon dapat mengalir ketempat lain yang berarti ke ekonomisannya akan berkurang atau tidak ekonomis sama sekali. Perangkap dalam hidrokarbon terbagi 2 yaitu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perangkap_struktur&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Perangkap struktur (belum dibuat)"&gt;perangkap struktur&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perangkap_stratigrafi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Perangkap stratigrafi (belum dibuat)"&gt;perangkap stratigrafi&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kajian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Geologi" title="Geologi"&gt;geologi&lt;/a&gt; merupakan kajian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Regional" title="Regional"&gt;regional&lt;/a&gt;, jika secara regional tidak memungkinkan untuk mendapat hidrokarbon maka tidak ada gunanya untuk diteruskan. Jika semua kriteria di atas terpenuhi maka daerah tersebut kemungkinan mempunyai potensi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_bumi" title="Minyak bumi"&gt;minyak bumi&lt;/a&gt; atau pun gas bumi. Sedangkan untuk menentukan ekonomis atau tidaknya diperlukan kajian yang lebih lanjut yang berkaitan dengan sifat fisik batuan. Maka penelitian dilanjutkan pada langkah berikutnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Kajian_Geofisika" id="Kajian_Geofisika"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Kajian Geofisika&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;setelah kajian secara regional dengan menggunakan metoda &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Geologi" title="Geologi"&gt;geologi&lt;/a&gt; dilakukan, dan hasilnya mengindikasikan potensi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon" title="Hidrokarbon"&gt;hidrokarbon&lt;/a&gt;, maka tahap selanjutnya adalah tahapan kajian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Geofisika" title="Geofisika"&gt;geofisika&lt;/a&gt;. Pada tahapan ini metoda - metoda khusus digunakan untuk mendapatkan data yang lebih akurat guna memastikan keberadaan hidrokarbon dan kemungkinannya untuk dapat di ekploitasi. Data-data yang dihasilkan dari pengukuran pengukuran merupakan cerminan kondisi dan sifat-sifat batuan di dalam bumi. Ini penting sekali untuk mengetahui apakan batuan tersebut memiliki sifat - sifat sebagai batuan sumber, reservoar, dan batuan perangkap atau hanya batuan yang tidak penting dalam artian hidrokarbon. Metoda-metoda ini menggunakan prinsip-prinsip &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fisika" title="Fisika"&gt;fisika&lt;/a&gt; yang digunakan sebagai aplikasi engineering.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Metoda tersebut adalah:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eksplorasi_seismik" title="Eksplorasi seismik"&gt;Eksplorasi seismik&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah ekplorasi yang dilakukan sebelum pengeboran. kajiannya meliputi daerah yang luas. dari hasil kajian ini akan didapat gambaran lapisan batuan didalam bumi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Data resistiviti&lt;br /&gt;Prinsip dasarnya adalah bahwa setiap batuan berpori akan di isi oleh fluida. Fluida ini bisa berupa air, minyak atau gas. Membedakan kandungan fluida didalam batuan salah satunya dengan menggunakan sifat resistan yang ada pada fluida. Fluida air memiliki nilai resistan yang rendah dibandingkan dengan minyak, demikian pula nilai resistan minyak lebih rendah dari pada gas. dari data log kita hanya bisa membedakan resistan rendah dan resistan tinggi, bukan jenis fluida karena nilai resitan fluida berbeda beda dari tiap daerah. sebagai dasar analisa fluida perlu kita ambil sampel fluida didalam batuan daerah tersebut sebagai acuan kita dalam interpretasi jenis fluida dari data resistiviti yang kita miliki.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Data porositas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Data berat jenis&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Data &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berat_jenis" title="Berat jenis"&gt;berat jenis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Data ini diambil dengan menggunakan alat logging dengan bantuan bahan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Radioaktif" title="Radioaktif"&gt;radioaktif&lt;/a&gt; yang memancarkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sinar_gamma" title="Sinar gamma"&gt;sinar gamma&lt;/a&gt;. Pantulan dari sinar ini akan menggambarkan berat jenis batuan. Dapat kita bandingkan bila pori batuan berisi air dengan batuan berisi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon" title="Hidrokarbon"&gt;hidrokarbon&lt;/a&gt; akan mempunyai berat jenis yang berbeda&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-7450891311633639101?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/7450891311633639101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=7450891311633639101' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/7450891311633639101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/7450891311633639101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/03/eksplorasi-minyak-bumi.html' title='Eksplorasi minyak bumi'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-6011284602249111441</id><published>2008-03-07T00:39:00.000-08:00</published><updated>2008-03-07T00:45:17.194-08:00</updated><title type='text'>BATUBARA</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Batubara&lt;/b&gt; adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui &lt;b&gt;proses pembatubaraan&lt;/b&gt;. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.&lt;/p&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Batubara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Analisa unsur memberikan rumus formula empiris seperti : C&lt;sub&gt;137&lt;/sub&gt;H&lt;sub&gt;97&lt;/sub&gt;O&lt;sub&gt;9&lt;/sub&gt;NS untuk bituminus dan C&lt;sub&gt;240&lt;/sub&gt;H&lt;sub&gt;90&lt;/sub&gt;O&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;NS untuk antrasit.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Umur Batubara&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pembentukan batubara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 &lt;i&gt;juta tahun yang lalu&lt;/i&gt; (jtl), adalah masa pembentukan batubara yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit batubara (&lt;i&gt;black coal&lt;/i&gt;) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga terbentuk endapan-endapan batubara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13 jtl) di pelbagai belahan bumi lain.&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Materi Pembentuk Batubara&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Alga&lt;/b&gt;, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit endapan batubara dari perioda ini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Silofita&lt;/b&gt;, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batubara dari perioda ini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Pteridofita&lt;/b&gt;, umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Materi utama pembentuk batubara berumur Karbon di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa" title="Eropa"&gt;Eropa&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Utara" title="Amerika Utara"&gt;Amerika Utara&lt;/a&gt;. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Gimnospermae&lt;/b&gt;, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batubara Permian seperti di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Australia" title="Australia"&gt;Australia&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/India" title="India"&gt;India&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika" title="Afrika"&gt;Afrika&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Angiospermae&lt;/b&gt;, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Kelas dan Jenis Batubara&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Antrasit&lt;/b&gt; adalah kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (&lt;i&gt;luster&lt;/i&gt;) metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karbon" title="Karbon"&gt;karbon&lt;/a&gt; (C) dengan kadar air kurang dari 8%.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Bituminus&lt;/b&gt; mengandung 68 - 86% unsur &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karbon" title="Karbon"&gt;karbon&lt;/a&gt; (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. Kelas batubara yang paling banyak ditambang di Australia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Sub-bituminus&lt;/b&gt; mengandung sedikit &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karbon" title="Karbon"&gt;karbon&lt;/a&gt; dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Lignit&lt;/b&gt; atau batubara coklat adalah batubara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Gambut&lt;/b&gt;, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Pembentukan Batubara&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batubara disebut dengan istilah pembatubaraan (&lt;i&gt;coalification&lt;/i&gt;). Secara ringkas ada 2 tahap proses yang terjadi, yakni:&lt;/p&gt; &lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Tahap Diagenetik atau Biokimia&lt;/b&gt;, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Tahap Malihan atau Geokimia&lt;/b&gt;, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan akhirnya antrasit.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Batubara di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di Indonesia, endapan batubara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera" class="mw-redirect" title="Sumatera"&gt;Sumatera&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan" title="Kalimantan"&gt;Kalimantan&lt;/a&gt;), pada umumnya endapan batubara ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batubara berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Skala_waktu_geologi" title="Skala waktu geologi"&gt;Skala waktu geologi&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Batubara ini terbentuk dari endapan gambut pada iklim purba sekitar khatulistiwa yang mirip dengan kondisi kini. Beberapa diantaranya tegolong kubah gambut yang terbentuk di atas muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun. Dengan kata lain, kubah gambut ini terbentuk pada kondisi dimana mineral-mineral anorganik yang terbawa air dapat masuk ke dalam sistem dan membentuk lapisan batubara yang berkadar abu dan sulfur rendah dan menebal secara lokal. Hal ini sangat umum dijumpai pada batubara Miosen. Sebaliknya, endapan batubara Eosen umumnya lebih tipis, berkadar abu dan sulfur tinggi. Kedua umur endapan batubara ini terbentuk pada lingkungan lakustrin, dataran pantai atau delta, mirip dengan daerah pembentukan gambut yang terjadi saat ini di daerah timur Sumatera dan sebagian besar Kalimantan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Endapan Batubara Eosen&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Endapan ini terbentuk pada tatanan tektonik ekstensional yang dimulai sekitar Tersier Bawah atau Paleogen pada cekungan-cekungan sedimen di &lt;span class="mw-redirect"&gt;Sumatera&lt;/span&gt; dan Kalimantan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ekstensi berumur Eosen ini terjadi sepanjang tepian Paparan Sunda, dari sebelah barat Sulawesi, Kalimantan bagian timur, Laut Jawa hingga Sumatera. Dari batuan sedimen yang pernah ditemukan dapat diketahui bahwa pengendapan berlangsung mulai terjadi pada Eosen Tengah. Pemekaran Tersier Bawah yang terjadi pada Paparan Sunda ini ditafsirkan berada pada tatanan busur dalam, yang disebabkan terutama oleh gerak penunjaman Lempeng Indo-Australia.&lt;sup id="_ref-cole_0" class="reference"&gt;[2]&lt;/sup&gt; Lingkungan pengendapan mula-mula pada saat Paleogen itu non-marin, terutama fluviatil, kipas aluvial dan endapan danau yang dangkal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di Kalimantan bagian tenggara, pengendapan batubara terjadi sekitar Eosen Tengah - Atas namun di Sumatera umurnya lebih muda, yakni Eosen Atas hingga Oligosen Bawah. Di Sumatera bagian tengah, endapan fluvial yang terjadi pada fasa awal kemudian ditutupi oleh endapan danau (non-marin).&lt;sup id="_ref-cole_1" class="reference"&gt;[2]&lt;/sup&gt; Berbeda dengan yang terjadi di Kalimantan bagian tenggara dimana endapan fluvial kemudian ditutupi oleh lapisan batubara yang terjadi pada dataran pantai yang kemudian ditutupi di atasnya secara transgresif oleh sedimen marin berumur Eosen Atas.&lt;sup id="_ref-1" class="reference"&gt;[3]&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Endapan batubara Eosen yang telah umum dikenal terjadi pada cekungan berikut: &lt;span class="mw-redirect"&gt;Pasir&lt;/span&gt; dan Asam-asam (&lt;span class="mw-redirect"&gt;Kalimantan Selatan&lt;/span&gt; dan &lt;span class="mw-redirect"&gt;Timur&lt;/span&gt;), &lt;span class="mw-redirect"&gt;Barito&lt;/span&gt; (&lt;span class="mw-redirect"&gt;Kalimantan Selatan&lt;/span&gt;), Kutai Atas (&lt;span class="mw-redirect"&gt;Kalimantan Tengah&lt;/span&gt; dan &lt;span class="mw-redirect"&gt;Timur&lt;/span&gt;), Melawi dan Ketungau (&lt;span class="mw-redirect"&gt;Kalimantan Barat&lt;/span&gt;), Tarakan (&lt;span class="mw-redirect"&gt;Kalimantan Timur&lt;/span&gt;), Ombilin (Sumatera Barat) dan &lt;span class="mw-redirect"&gt;Sumatera&lt;/span&gt; Tengah (&lt;span class="mw-redirect"&gt;Riau&lt;/span&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dibawah ini adalah kualitas rata-rata dari beberapa endapan batubara Eosen di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;table class="wikitable"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;Tambang&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Cekungan&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Perusahaan&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Kadar air total (%ar)&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Kadar air inheren (%ad)&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Kadar abu (%ad)&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Zat terbang (%ad)&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Belerang (%ad)&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Nilai energi (kkal/kg)(ad)&lt;/th&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Satui&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Asam-asam&lt;/td&gt; &lt;td&gt;PT Arutmin Indonesia&lt;/td&gt; &lt;td&gt;10.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;7.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;8.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;41.50&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.80&lt;/td&gt; &lt;td&gt;6800&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Senakin&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Pasir&lt;/td&gt; &lt;td&gt;PT Arutmin Indonesia&lt;/td&gt; &lt;td&gt;9.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;4.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;15.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;39.50&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.70&lt;/td&gt; &lt;td&gt;6400&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Petangis&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Pasir&lt;/td&gt; &lt;td&gt;PT BHP Kendilo Coal&lt;/td&gt; &lt;td&gt;11.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;4.40&lt;/td&gt; &lt;td&gt;12.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;40.50&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.80&lt;/td&gt; &lt;td&gt;6700&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Ombilin&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Ombilin&lt;/td&gt; &lt;td&gt;PT Bukit Asam&lt;/td&gt; &lt;td&gt;12.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;6.50&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;8.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;36.50&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.50 - 0.60&lt;/td&gt; &lt;td&gt;6900&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Parambahan&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Ombilin&lt;/td&gt; &lt;td&gt;PT Allied Indo Coal&lt;/td&gt; &lt;td&gt;4.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td&gt;10.00 (ar)&lt;/td&gt; &lt;td&gt;37.30 (ar)&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.50 (ar)&lt;/td&gt; &lt;td&gt;6900 (ar)&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;p&gt;(ar) - as received, (ad) - air dried, Sumber: Indonesian Coal Mining Association, 1998&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Endapan Batubara Miosen&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada Miosen Awal, pemekaran regional Tersier Bawah - Tengah pada Paparan Sunda telah berakhir. Pada Kala Oligosen hingga Awal Miosen ini terjadi transgresi marin pada kawasan yang luas dimana terendapkan sedimen marin klastik yang tebal dan perselingan sekuen batugamping. Pengangkatan dan kompresi adalah kenampakan yang umum pada tektonik Neogen di Kalimantan maupun Sumatera. Endapan batubara Miosen yang ekonomis terutama terdapat di Cekungan Kutai bagian bawah (Kalimantan Timur), Cekungan Barito (Kalimantan Selatan) dan Cekungan Sumatera bagian selatan. Batubara Miosen juga secara ekonomis ditambang di Cekungan Bengkulu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Batubara ini umumnya terdeposisi pada lingkungan fluvial, delta dan dataran pantai yang mirip dengan daerah pembentukan gambut saat ini di Sumatera bagian timur. Ciri utama lainnya adalah kadar abu dan belerang yang rendah. Namun kebanyakan sumberdaya batubara Miosen ini tergolong sub-bituminus atau lignit sehingga kurang ekonomis kecuali jika sangat tebal (PT Adaro) atau lokasi geografisnya menguntungkan. Namun batubara Miosen di beberapa lokasi juga tergolong kelas yang tinggi seperti pada Cebakan Pinang dan Prima (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kaltim_Prima_Coal" title="Kaltim Prima Coal"&gt;PT KPC&lt;/a&gt;), endapan batubara di sekitar hilir Sungai Mahakam, Kalimantan Timur dan beberapa lokasi di dekat Tanjungenim, Cekungan Sumatera bagian selatan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tabel dibawah ini menunjukan kualitas rata-rata dari beberapa endapan batubara Miosen di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;table class="wikitable"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;Tambang&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Cekungan&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Perusahaan&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Kadar air total (%ar)&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Kadar air inheren (%ad)&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Kadar abu (%ad)&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Zat terbang (%ad)&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Belerang (%ad)&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Nilai energi (kkal/kg)(ad)&lt;/th&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Prima&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Kutai&lt;/td&gt; &lt;td&gt;PT Kaltim Prima Coal&lt;/td&gt; &lt;td&gt;9.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td&gt;4.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;39.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.50&lt;/td&gt; &lt;td&gt;6800 (ar)&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Pinang&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Kutai&lt;/td&gt; &lt;td&gt;PT Kaltim Prima Coal&lt;/td&gt; &lt;td&gt;13.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td&gt;7.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;37.50&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.40&lt;/td&gt; &lt;td&gt;6200 (ar)&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Roto South&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Pasir&lt;/td&gt; &lt;td&gt;PT Kideco Jaya Agung&lt;/td&gt; &lt;td&gt;24.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td&gt;3.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;40.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.20&lt;/td&gt; &lt;td&gt;5200 (ar)&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Binungan&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Tarakan&lt;/td&gt; &lt;td&gt;PT Berau Coal&lt;/td&gt; &lt;td&gt;18.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;14.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;4.20&lt;/td&gt; &lt;td&gt;40.10&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.50&lt;/td&gt; &lt;td&gt;6100 (ad)&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Lati&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Tarakan&lt;/td&gt; &lt;td&gt;PT Berau Coal&lt;/td&gt; &lt;td&gt;24.60&lt;/td&gt; &lt;td&gt;16.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;4.30&lt;/td&gt; &lt;td&gt;37.80&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.90&lt;/td&gt; &lt;td&gt;5800 (ad)&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Air Laya&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Sumatera bagian selatan&lt;/td&gt; &lt;td&gt;PT Bukit Asam&lt;/td&gt; &lt;td&gt;24.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td&gt;5.30&lt;/td&gt; &lt;td&gt;34.60&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.49&lt;/td&gt; &lt;td&gt;5300 (ad)&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Paringin&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Barito&lt;/td&gt; &lt;td&gt;PT Adaro&lt;/td&gt; &lt;td&gt;24.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;18.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;4.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;40.00&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.10&lt;/td&gt; &lt;td&gt;5950 (ad)&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;p&gt;(ar) - as received, (ad) - air dried, Sumber: Indonesian Coal Mining Association, 1998&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Sumberdaya Batubara&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Potensi sumberdaya batubara di Indonesia sangat melimpah, terutama di Pulau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan" title="Kalimantan"&gt;Kalimantan&lt;/a&gt; dan Pulau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera" class="mw-redirect" title="Sumatera"&gt;Sumatera&lt;/a&gt;, sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai batubara walaupun dalam jumlah kecil dan belum dapat ditentukan keekonomisannya, seperti di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Barat" class="mw-redirect" title="Jawa Barat"&gt;Jawa Barat&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah" class="mw-redirect" title="Jawa Tengah"&gt;Jawa Tengah&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Papua" title="Papua"&gt;Papua&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi" title="Sulawesi"&gt;Sulawesi&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di Indonesia, batubara merupakan bahan bakar utama selain &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Solar" class="mw-redirect" title="Solar"&gt;solar&lt;/a&gt; (&lt;i&gt;diesel fuel&lt;/i&gt;) yang telah umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batubara jauh lebih hemat dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut: Solar Rp 0,74/kilokalori sedangkan batubara hanya Rp 0,09/kilokalori, (berdasarkan harga &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Solar" class="mw-redirect" title="Solar"&gt;solar&lt;/a&gt; industri Rp. 6.200/liter).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari segi kuantitas batubara termasuk cadangan energi fosil terpenting bagi Indonesia. Jumlahnya sangat berlimpah, mencapai puluhan milyar ton. Jumlah ini sebenarnya cukup untuk memasok kebutuhan energi listrik hingga ratusan tahun ke depan. Sayangnya, Indonesia tidak mungkin membakar habis batubara dan mengubahnya menjadi energis listrik melalui PLTU. Selain mengotori lingkungan melalui polutan CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;, SO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;, NO&lt;sub&gt;x&lt;/sub&gt; dan C&lt;sub&gt;x&lt;/sub&gt;H&lt;sub&gt;y&lt;/sub&gt; cara ini dinilai kurang efisien dan kurang memberi nilai tambah tinggi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Batubara sebaiknya tidak langsung dibakar, akan lebih bermakna dan efisien jika dikonversi menjadi migas sintetis, atau bahan petrokimia lain yang bernilai ekonomi tinggi. Dua cara yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Likuifikasi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Likuifikasi (belum dibuat)"&gt;likuifikasi&lt;/a&gt; (pencairan) dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gasifikasi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Gasifikasi (belum dibuat)"&gt;gasifikasi&lt;/a&gt; (penyubliman) batubara.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Membakar batubara secara langsung (direct burning) telah dikembangkan teknologinya secara continue, yang bertujuan untuk mencapai efisiensi pembakaran yang maksimum, cara-cara pembakaran langsung seperti: &lt;i&gt;fixed grate&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;chain grate&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;fluidized bed&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;pulverized&lt;/i&gt;, dan lain-lain, masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahannya.&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Gasifikasi Batubara&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Coal gasification adalah sebuah proses untuk merubah batubara padat menjadi gas batu bara yang mudah terbakar (combustible gases), setelah proses pemurnian gas-gas ini CO (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karbon_monoksida" title="Karbon monoksida"&gt;karbon monoksida&lt;/a&gt;), &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karbon_dioksida" title="Karbon dioksida"&gt;karbon dioksida&lt;/a&gt; (CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;), &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrogen" title="Hidrogen"&gt;hidrogen&lt;/a&gt; (H), &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Metan" class="mw-redirect" title="Metan"&gt;metan&lt;/a&gt; (CH&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;), dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nitrogen" title="Nitrogen"&gt;nitrogen&lt;/a&gt; (N&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;) – dapat digunakan sebagai bahan bakar. hanya menggunakan udara dan uap air sebagai reacting-gas kemudian menghasilkan water gas atau coal gas, gasifikasi secara nyata mempunyai tingkat emisi udara, kotoran padat dan limbah terendah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tetapi, batubara bukanlah bahan bakar yang sempurna. Terikat didalamnya adalah sulfur dan nitrogen, bila batubara ini terbakar kotoran-kotoran ini akan dilepaskan ke udara, bila mengapung di udara zat kimia ini dapat menggabung dengan uap air (seperti contoh kabut) dan tetesan yang jatuh ke tanah seburuk bentuk asam sulfurik dan nitrit, disebut sebagai "hujan asam" &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=%E2%80%9Cacid_rain%E2%80%9D&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="“acid rain” (belum dibuat)"&gt;“acid rain”&lt;/a&gt;. Disini juga ada noda mineral kecil, termasuk kotoran yang umum tercampur dengan batubara, partikel kecil ini tidak terbakar dan membuat debu yang tertinggal di coal combustor, beberapa partikel kecil ini juga tertangkap di putaran combustion gases bersama dengan uap air, dari asap yang keluar dari cerobong beberapa partikel kecil ini adalah sangat kecil setara dengan rambut manusia.&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Bagaimana membuat batubara bersih&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa cara. Contoh sulfur, sulfur adalah zat kimia kekuningan yang ada sedikit di batubara, pada beberapa batubara yang ditemukan di Ohio, Pennsylvania, West Virginia dan eastern states lainnya, sulfur terdiri dari 3 sampai 10 % dari berat batu bara, beberapa batu bara yang ditemukan di Wyoming, Montana dan negara-negara bagian sebelah barat lainnya sulfur hanya sekitar 1/100ths (lebih kecil dari 1%) dari berat batubara. Penting bahwa sebagian besar sulfur ini dibuang sbelum mencapai cerobong asap.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Satu cara untuk membersihkan batubara adalah dengan cara mudah memecah batubara ke bongkahan yang lebih kecil dan mencucinya. Beberapa sulfur yang ada sebagai bintik kecil di batu bara disebut sebagai "pyritic sulfur " karena ini dikombinasikan dengan besi menjadi bentuk iron pyrite, selain itu dikenal sebagai "fool's gold” dapat dipisahkan dari batubara. Secara khusus pada proses satu kali, bongkahan batubara dimasukkan ke dalam tangki besar yang terisi air , batubara mengambang ke permukaan ketika kotoran sulfur tenggelam. Fasilitas pencucian ini dinamakan "coal preparation plants" yang membersihkan batubara dari pengotor-pengotornya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tidak semua sulfur bisa dibersihkan dengan cara ini, bagaimanapun sulfur pada batubara adalah secara kimia benar-benar terikat dengan molekul karbonnya, tipe sulfur ini disebut "organic sulfur," dan pencucian tak akan menghilangkannya. Beberapa proses telah dicoba untuk mencampur batubara dengan bahan kimia yang membebaskan sulfur pergi dari molekul batubara, tetapi kebanyakan proses ini sudah terbukti terlalu mahal, ilmuan masih bekerja untuk mengurangi biaya dari prose pencucian kimia ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kebanyakan pembangkit tenaga listrik modern dan semua fasilitas yang dibangun setelah 1978 — telah diwajibkan untuk mempunyai alat khusus yang dipasang untuk membuang sulfur dari gas hasil pembakaran batubara sebelum gas ini naik menuju cerobong asap. Alat ini sebenarnya adalah "flue gas desulfurization units," tetapi banyak orang menyebutnya "scrubbers" — karena mereka men-scrub (menggosok) sulfur keluar dari asap yang dikeluarkan oleh tungku pembakar batubara.&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Membuang NOx dari batubara&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nitrogen secara umum adalah bagian yang besar dari pada udara yang dihirup, pada kenyataannya 80% dari udara adalah nitrogen, secara normal atom-atom nitrogen mengambang terikat satu sama lainnya seperti pasangan kimia, tetapi ketika udara dipanaskan seperti pada nyala api boiler (3000 F=1648 C), atom nitrogen ini terpecah dan terikat dengan oksigen, bentuk ini sebagai nitrogen oksida atau kadang kala itu disebut sebagai NOx. NOx juga dapat dibentuk dari atom nitrogen yang terjebak didalam batubara.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di udara, NOx adalah polutan yang dapat menyebabkan kabut coklat yang kabur yang kadang kala terlihat di seputar kota besar, juga sebagai polusi yang membentuk “acid rain” (hujan asam), dan dapat membantu terbentuknya sesuatu yang disebut “ground level ozone”, tipe lain dari pada polusi yang dapat membuat kotornya udara.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Salah satu cara terbaik untuk mengurangi NOx adalah menghindari dari bentukan asalnya, beberapa cara telah ditemukan untuk membakar barubara di pemabakar dimana ada lebih banyak bahan bakar dari pada udara di ruang pembakaran yang terpanas. Di bawah kondisi ini kebanyakan oksigen terkombinasikan dengan bahan bakar daripada dengan nitrogen. Campuran pembakaran kemudian dikirim ke ruang pembakaran yang kedua dimana terdapat proses yang mirip berulang-ulang sampai semua bahan bakar habis terbakar. Konsep ini disebut "staged combustion" karena batubara dibakar secara bertahap. Kadang disebut juga sebagai "low-NOx burners" dan telah dikembangkan sehingga dapat mengurangi kangdungan Nox yang terlepas di uadara lebih dari separuh. Ada juga teknologi baru yang bekerja seperti "scubbers" yang membersihkan NOX dari flue gases (asap) dari boiler batu bara. Beberapa dari alat ini menggunakan bahan kimia khusus yang disebut katalis yang mengurai bagian NOx menjadi gas yang tidak berpolusi, walaupun alat ini lebih mahal dari "low-NOx burners," namun dapat menekan lebih dari 90% polusi Nox.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-6011284602249111441?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/6011284602249111441/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=6011284602249111441' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/6011284602249111441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/6011284602249111441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/03/batubara.html' title='BATUBARA'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-320365980447288532</id><published>2008-03-07T00:33:00.000-08:00</published><updated>2008-03-07T00:39:07.476-08:00</updated><title type='text'>Mengenal Batubara</title><content type='html'>Batubara merupakan salah satu sumber energi primer yang memiliki riwayat pemanfaatan yang sangat panjang. Beberapa ahli sejarah yakin bahwa batubara pertama kali digunakan secara komersial di Cina. Ada laporan yang menyatakan bahwa suatu tambang di timur laut Cina menyediakan batu bara untuk mencairkan tembaga dan untuk mencetak uang logam sekitar tahun 1000 SM. Bahkan petunjuk paling awal tentang batubara ternyata berasal dari filsuf dan ilmuwan Yunani yaitu Aristoteles, yang menyebutkan adanya arang seperti batu. Abu batu bara yang ditemukan di reruntuhan bangunan bangsa Romawi di Inggris juga menunjukkan bahwa batubara telah digunakan oleh bangsa Romawi pada tahun 400 SM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan sejarah dari Abad Pertengahan memberikan bukti pertama penambangan batu bara di Eropa, bahkan suatu perdagangan internasional batu bara laut dari lapisan batu bara yang tersingkap di pantai Inggris dikumpulkan dan diekspor ke Belgia. Selama Revolusi Industri pada abad 18 dan 19, kebutuhan akan batubara amat mendesak. Penemuan revolusional mesin uap oleh James Watt, yang dipatenkan pada tahun 1769, sangat berperan dalam pertumbuhan penggunaan batu bara. Oleh karena itu, riwayat penambangan dan penggunaan batu bara tidak dapat dilepaskan dari sejarah Revolusi Industri, terutama terkait dengan produksi besi dan baja, transportasi kereta api dan kapal uap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tingkat penggunaan batubara sebagai sumber energi primer mulai berkurang seiring dengan semakin meningkatnya pemakaian minyak. Dan akhirnya, sejak tahun 1960 minyak menempati posisi paling atas sebagai sumber energi primer menggantikan batubara. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa batubara akhirnya tidak berperan sama sekali sebagai salah satu sumber energi primer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis minyak pada tahun 1973 menyadarkan banyak pihak bahwa ketergantungan yang berlebihan pada salah satu sumber energi primer, dalam hal ini minyak, akan menyulitkan upaya pemenuhan pasokan energi yang kontinyu. Selain itu, labilnya kondisi keamanan di Timur Tengah yang merupakan produsen minyak terbesar juga sangat berpengaruh pada fluktuasi harga maupun stabilitas pasokan. Keadaan inilah yang kemudian mengembalikan pamor batubara sebagai alternatif sumber energi primer, disamping faktor ・faktor berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;ol type="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Cadangan batubara sangat banyak dan tersebar luas.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ul&gt;Diperkirakan terdapat lebih dari 984 milyar ton cadangan batubara terbukti (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;proven coal reserves&lt;/span&gt;) di seluruh dunia yang tersebar di lebih dari 70 negara. Dengan asumsi tingkat produksi pada tahun 2004 yaitu sekitar 4.63 milyar ton per tahun untuk produksi batubara keras (hard coal) dan 879 juta ton per tahun untuk batubara muda (brown coal), maka cadangan batubara diperkirakan dapat bertahan hingga 164 tahun. Sebaliknya, dengan tingkat produksi pada saat ini, minyak diperkirakan akan habis dalam waktu 41 tahun, sedangkan gas adalah 67 tahun. Disamping itu, sebaran cadangannya pun terbatas, dimana 68% cadangan minyak dan 67% cadangan gas dunia terkonsentrasi di Timur Tengah dan Rusia.&lt;/ul&gt; &lt;ol start="2" type="1"&gt;&lt;li&gt;Negara-negara maju dan negara-negara berkembang terkemuka memiliki banyak cadangan batubara.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ul&gt;Berdasarkan data dari BP &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Statistical Review of Energy&lt;/span&gt; 2004, pada tahun 2003, 8 besar negara ・negara dengan cadangan batubara terbanyak adalah Amerika Serikat, Rusia, China, India, Australia, Jerman, Afrika Selatan, dan&lt;br /&gt;Ukraina.&lt;/ul&gt; &lt;ol start="3" type="1"&gt;&lt;li&gt;Batubara dapat diperoleh dari banyak sumber di pasar dunia dengan pasokan yang stabil.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Harga batubara yang murah dibandingkan dengan minyak dan gas.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batubara aman untuk ditransportasikan dan disimpan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batubara dapat ditumpuk di sekitar tambang, pembangkit listrik, atau lokasi sementara.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teknologi pembangkit listrik tenaga uap batubara sudah teruji dan handal.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kualitas batubara tidak banyak terpengaruh oleh cuaca maupun hujan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Pengaruh pemanfaatan&lt;/span&gt;&lt;pengaruh pemanfaatan=""&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;batubara terhadap perubahan lingkungan sudah dipahami dan dipelajari secara luas, sehingga teknologi batubara bersih (clean coal technology) dapat dikembangkan dan diaplikasikan.&lt;/pengaruh&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Melihat pemaparan di atas, dapat dimengerti bahwa peranan batubara dalam penyediaan kebutuhan energi sangatlah penting. Disini penulis tidak akan membahas lebih jauh tentang hal tersebut, tapi akan mengenalkan tentang batubara dan parameter umum yang menjadi penilaian kualitas batubara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Pembentukan Batubara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Batubara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar fosil. Adapun proses yang mengubah tumbuhan menjadi batubara tadi disebut dengan pembatubaraan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;coalification&lt;/span&gt;).&lt;/p&gt;Faktor tumbuhan purba yang jenisnya berbeda-beda sesuai dengan jaman geologi dan lokasi tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah dengan lokasi pengendapan (sedimentasi) tumbuhan, pengaruh tekanan batuan dan panas bumi serta perubahan geologi yang berlangsung kemudian, akan menyebabkan terbentuknya batubara yang jenisnya bermacam-macam. Oleh karena itu, karakteristik batubara berbeda-beda sesuai dengan lapangan batubara (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;coal field&lt;/span&gt;) dan lapisannya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;coal seam&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pembentukan batubara dimulai sejak periode pembentukan Karbon (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Carboniferous Period&lt;/span&gt;) --dikenal sebagai zaman batu bara pertama-- yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Kualitas dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai 'maturitas organik'. Proses awalnya, endapan tumbuhan berubah menjadi gambut (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;peat&lt;/span&gt;), yang selanjutnya berubah menjadi batu bara muda (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lignite&lt;/span&gt;) atau disebut pula batu bara coklat (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;brown coal&lt;/span&gt;). Batubara muda adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun, maka batu bara muda akan mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah batubara muda menjadi batu bara sub-bituminus (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sub-bituminous&lt;/span&gt;). Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan warnanya lebih hitam sehingga membentuk bituminus (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bituminou&lt;/span&gt;s) atau antrasit (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;anthracit&lt;/span&gt;e). Dalam kondisi yang tepat, peningkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk antrasit.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; Dalam proses pembatubaraan, maturitas organik sebenarnya menggambarkan perubahan konsentrasi dari setiap unsur utama pembentuk batubara. Berikut ini ditunjukkan contoh analisis dari masing --masing unsur yang terdapat dalam setiap tahapan pembatubaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Imam Budi Raharjo, Entrepreneur di bidang peralatan tambang batubara. Email: imamharjo@yahoo.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-320365980447288532?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/320365980447288532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=320365980447288532' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/320365980447288532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/320365980447288532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/03/mengenal-batubara.html' title='Mengenal Batubara'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-4714294151002968149</id><published>2008-03-06T03:50:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T03:52:44.074-08:00</updated><title type='text'>Mengenal Bumi Lebih Dekat</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;SEBAGAI masyarakat ilmiah, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) berpe-ran dalam pembangunan di segala bidang yang berhubungan dengan geologi di Indonesia. Kajian-kajian ilmiah yang dikemukakan para pakar geologi telah ikut memajukan perkembangan pendayagunaan aspek geologi dalam pembangunan nasional yang &lt;i&gt;notabene&lt;/i&gt; untuk kesejahteraan masyarakat. Bagi masyarakat umum, bisa jadi kiprah yang dilakukan IAGI tidak secara langsung dapat dirasakan manfaatnya, karena fungsi yang dijalankan IAGI adalah lebih kepada pengembangan keprofesian bidang geologi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Geologi, apa itu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Biasanya kata geologi sering diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tanah dan batu-batuan. Secara lebih lengkap, geologi adalah ilmu yang mempelajari Bumi dalam hal mulajadi, struktur, komposisi, sejarah perkembangannya dan proses-proses yang berlangsung di dalam dan di permukaannya, sehingga Bumi mencapai bentuknya yang sekarang.&lt;/span&gt;&lt;span id="more-573"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;“Benda geologi” yang paling sering diamati adalah yang sehari-hari kita sebut sebagai batu atau batuan. Melalui penyelidikan batuan yang dilakukan dengan berbagai cara dan peralatan, maka diketahuilah berbagai gejala alam, seperti gempa bumi, letusan gunung api, pembentukan mineral, minyak dan gas bumi, dan peristiwa alam lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sederhananya, Bumi selain menyimpan kandungan sumber daya alam, Bumi pun memiliki potensi kebencanaan. Begitu pula Kepulauan Indonesia yang terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu adalah wilayah yang secara geologis selain menyimpan berbagai sumber daya mi-neral dan energi juga merupakan wilayah yang berpotensi sekaligus rawan bencana, antara lain gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir dan tanah longsor.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Banjir dan tanah longsor&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Di antara bentuk bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia adalah banjir dan tanah longsor. Peristiwa banjir dan tanah longsor, apakah murni sebagai fenomena alam atau karena ada campur tangan manusia, memang bisa menjadi perdebatan panjang. Banjir dan tanah longsor adalah persoalan yang selalu membuntuti kita sepanjang tahun, khususnya pada satu dekade terakhir ini. Di musim hujan, banyak daerah di Indonesia yang dilanda banjir dan tanah longsor, sebaliknya di musim ke-ring banyak orang berteriak kekurangan air. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Menurut Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (Bakornas PBP), bencana alam yang berkaitan dengan kebumian pada periode 1998 hingga Mei 2004 telah merenggut korban jiwa sebanyak 2232 orang. Dari jumlah korban tersebut yang paling banyak adalah akibat bencana banjir (1.117 orang) dengan jumlah kejadian sebanyak 379 kali. Korban berikutnya adalah akibat dari bencana tanah longsor (765 orang; 288 kejadian). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sedangkan korban akibat bencana gempa bumi mencapai 350 orang dengan 52 kali kejadian, serta dari bencana gunung api adalah dua orang di antara 17 kali kejadian. Sementara itu, penanggulangan bencana di Indonesia lebih banyak pada upaya tanggap darurat di setiap kejadian pascabencana. Menyadari hal ini, sudah sewajarnya masyarakat memperoleh pengetahuan tentang fenomena alam yang dapat menimbulkan bencana itu, sebagai upaya mengantisipasi bencana. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Mengenal lebih dekat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Menyimak bencana alam akibat kejadian banjir dan tanah longsor, atau bencana alam lainnya, kita patut berpikir, mengapa muncul bencana alam? Bagaimana sesungguhnya fenomena alam itu terjadi? Dengan mencoba mengenal Bumi lebih dekat, kita akan melihat Bumi selain mengandung bahan-bahan sumber daya mineral dan energi yang kita butuhkan, Bumi pun harus dicermati karena ia menyimpan potensi kebencanaan. Dan sudah selayaknya masyarakat umum termasuk anak-anak diperkenalkan dengan pengetahuan dasar ilmu kebumian. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sebagai contoh, untuk lebih mengembangkan kreativitas anak-anak, kita dapat mengajaknya melakukan percobaan tentang peristiwa erosi tanah. Material yang dibutuhkan adalah sebuah kaleng biskuit yang dipotong diagonal menjadi dua bagian dan ke dalam rongganya diisi tanah hingga membentuk lereng. Salah satu lereng itu kita tanami dengan rumput. Setelah rumput tumbuh subur kemudian lakukan percobaan berikut ini. Hujani kedua lereng itu dengan air mancur dari air yang diisi pada kaleng susu yang dilubangi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Apa yang terjadi? Lereng yang mana yang mudah tererosi? Lumpur dan air pada lereng yang mana yang mudah menggelontor ke bawah? Silakan anak-anak memperoleh kesempatan untuk mengamati dan menyimpulkannya. Dengan melakukan percobaan semacam ini, diharapkan anak-anak dapat meresapinya, bagaimana peristiwa erosi terjadi, terutama pada kejadian sesungguhnya di alam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Berbagai kegiatan yang pada intinya mengenal bumi lebih dekat, baik yang berhubungan dengan geologi maupun ilmu hayati, bukan tidak ada yang melakukannya. Lihat saja misalnya, aktivitas sekolah yang berorientasi ke alam (Sekolah Alam), kegiatan &lt;i&gt;ecoschool &lt;/i&gt;yang             diselenggarakan Himpunan Mahasiswa di ITB bagi siswa SMP, klub Bicons (&lt;i&gt;Bird             Conservation Society&lt;/i&gt;) Mahasiswa Biologi Unpad, pendidikan tentang Gunung Merapi oleh Pusat Studi Bencana UPN-Veteran Yogyakarta bagi masyarakat sekitar Gunung Merapi, dan yang lainnya, termasuk kegiatan sosialisasi geologi yang dilaksanakan IAGI. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Di mana mengamatinya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kita juga dapat mengamati Bumi di hotel, di mal, di gedung-gedung pertokoan atau di             gedung perkantoran. &lt;i&gt;Lho, kok&lt;/i&gt;? Benar. kita dapat mempelajari tekstur dan mineral penyusun batuan granit pada permukaan dinding atau lantai gra-nit di sebuah hotel atau mal yang berkaitan dengan geologi. Dari tekstur dan susunan mine-ral itulah dapat diketahui, bagaimana batuan itu terbentuk. Kita juga bisa mengamati fosil &lt;i&gt;foraminifera&lt;/i&gt;, koral             atau &lt;i&gt;algae &lt;/i&gt;pada batu gam-ping yang ditempel di dinding dan lantai gedung pertokoan, gedung perkantoran atau rumah sendiri. Kita dapat mengetahui tentang lingkungan laut di mana batuan itu terbentuk dahulu kala berdasarkan fosil-fosil itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Untuk mengamati Bumi secara lebih lengkap dan sistematik, kita bisa mengunjungi Museum Geologi di Bandung. Di museum ini kita dapat belajar mengenali kehidupan prasejarah, proses gunung api, cara terbentuknya mineral, minyak bumi, juga benda dan peralatan yang kita pakai sehari-hari, yang tidak pernah dikira barang-barang itu berasal dari bahan dan mineral dari perut Bumi. Kita dapat pula mengajak anak-anak mengamati Bumi secara langsung di alam, atau seraya berekreasi ke tempat-tempat wisata alam seperti Gunung Merapi, Gunung Tangkuban Perahu, tempat wisata air panas Ciater, dan di tempat yang lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Untuk mengenal Bumi dapat dimulai dengan mengenal batuan, dan itu bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Salah satu tempat menyaksikan bermacam batuan bermunculan isi perut Bumi ke permukaan adalah daerah Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. Di sana anak-anak dapat menikmati mengumpulkan kerikil berbagai macam batuan pembentuk Bumi yang berserakan di Sungai Luk Ulo, atau bahkan mereka bisa menjejakkan kaki di atas batuan lantai samudra purba. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Peran IAGI&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Tujuan dari memperkenalkan Bumi lebih dekat kepada masyarakat umum adalah memberi pemahaman. Bumi selain sebagai tempat memperoleh sumber daya alam untuk kehidupan, Bumi pun bisa memunculkan bencana. Selain itu, eksploitasi sumber daya alam tanpa didukung dengan kaidah-kaidah pengelolaan berkelanjutan dan kelestarian alam hanya akan merusak keseimbangan tatanan alam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pentingnya menjaga kelestarian Bumi dalam skala regional dapat dimulai dengan tindakan memahami lingkungan yang menyentuh persoalan-persoalan dari skala lokal, yaitu dari skala hunian manusia. Khusus kepada anak-anak, pengenalan ini dinilai tepat sasaran, karena pemahaman tentang alam sejak usia dini diprediksi akan lebih memberi ingatan tentang alam yang akan melekat hingga mereka besar nanti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;IAGI sebagai salah satu asosiasi profesi bidang kebumian memiliki peran besar untuk menyebarluaskan keahliannya kepada masyarakat umum. Agar kiprah IAGI terasa lebih membumi, IAGI perlu meningkatkan porsi kegiatan sosialisasi geologi dalam dua arah. Kepada pemerintah, IAGI bisa mengusulkan tentang materi-materi ilmu kebumian ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Sementara bagi masyarakat umum, IAGI melalui anggota-anggotanya dapat turun langsung atau melalui media masa secara simultan dan terprogram menyosialisasikan geologi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kita semua tentu berharap agar tidak terjadi kesenjangan antara (meriahnya) aktivitas IAGI dengan (dinginnya) pemahaman masyarakat Indonesia akan peran IAGI dan arti penting geologi untuk kehidupan.*** &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Dr.Ir. Munasri,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;i&gt;            &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;i&gt;Anggota IAGI. Kepala Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-4714294151002968149?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/4714294151002968149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=4714294151002968149' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/4714294151002968149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/4714294151002968149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/03/mengenal-bumi-lebih-dekat.html' title='Mengenal Bumi Lebih Dekat'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-3790845082276134430</id><published>2008-03-06T03:47:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T03:49:50.488-08:00</updated><title type='text'>MENGENAL TIPE BENTANG ALAM KARS DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Batuan karbonat merupakan batuan yang penyusun utamnya adalah mineral karbonat. Secara umum, batuan karbonat dikenal sebagai batugamping, walaupun sebenarnya terdapat jenis yang lain yaitu dolostone. Batuan karbonat dapat terbentuk di berbagai lingkungan pengendapan. Namun umumnya batuan ini terbentuk pada lingkungan laut, terutama laut dangkal. Hal tersebut dikarenaka batuan karbonat dibentuk ole zat organic yang umumnya subur di daerah yang masih mendapat sinar matahari, kaya akan nutrisi, dll. Laut dangkal dimana batuan karbonat terbentuk disebut sebagai paparan karbonat (carbonate platform). Menurut Tucker &amp;amp; Wright (1991), paparan karbonat dapat dibagi menjadi rimmed shelf, ramp, epeiric, isolated platform d an drowned platform. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;Karena faktor yang mempengaruhi pembentukan batuan karbonat bermacam-macam menyebabkan bentang alam yang dibentuk oleh batan karbonat juga beraneka ragam. Batuan karbonat, khususnya batugamping, memiliki sifat mudah larut dalam air. Hali ini dapat dijumpai terutama pada batugamping yang berkadar CO2 tinggi. Pelarutan tersebut akan menghasilkan bentukan-bentukan yang khas yang tidak dapat dijumpai pada batuan jenis lain. Gejala pelarutan ini merupakan awal dari proses karstifikasi. Morfologi yag dihasilkan oleh batuan karbonat yang mengalami karstifikasi dikenal dengan sebutan bentang alam kars. &lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;Hampir semua daerah yang memiliki bentang alam kars mempunyai bentukan-bentukan yang khas di setiap daerah. Perbedaan-perbedaan tersebut menjadi dasar pengelompokan kawasan kars di Indonesia, yang antara lain adalah : &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;a. Tipe Gunung Sewu &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;Tipe ini hadir berupa kawasan kars yang luas dan dicirikan bukit gamping berbentuk kerucut (konical) dan kubah yang jumlahnya ribuan. Selain itu di dapati adanya lembah dolina dan polje diantara bukit-bukit tersebut. Di dalam dolina didapati adanya terrarosa yang menahan air sehingga tidak bocor ke dalam tanah. Terrarosa juga digunakan untuk lahan pertanian. Sungai-sungai yang mengalir masuk kebawah permukaan tanah melalui mulut-mulut gua (through caves) maupun dari sink yang ada. Sungai-sungai yang mengair di bawah tanah akan bergabung membentuk sistem besar. Arah aliran sungai umumnya dikendalikan oleh struktur geologi. Tipe ini berkembang di sepanjang jalur pegunungan selatan dari Jawa Timur hingga Yogyakarta. &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;b . Tipe Gombong &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;Bentang alam kars dicirikan oleh pembentukan cockpit, terutama yang dijumpai di daerah selatan Gombong (daerah Karangbolong). Bentukan depresi yang ada umumnya dibatasi oleh lereng yang terjal dan kadang dijumpai bentukan seperti bintang. Karena batugamping berada di atas lapisan batuan yang kedap air maka batas antara keduanya menjadi tempat keluarnya mata air. &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;c. Tipe Maros &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;Tipe ini dicirikan oleh bukit-bukit yang berbentuk menara (tower karst/magote). Pembentukan bentan alam ini berkaitan dengan bidang retakan (kekar dan sesar) yang arahnya berkedudukan tegak atau hanpir tegak. Tinggi menara antara 50-200 meter, berlereng terjal dan datar pada bagian puncaknya. Diantara bukit-bukit tersebut terdapat lembah-lembah sempit, berdasar rata, berbentuk memanjang. Bentukan yang khas ini dijumpai di daerah Maros, Sulawesi Selatan. &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;d. Tipe Wawolesea &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;Tipe ini dicirikan adanya lorong-lorong yang terisi oleh air panas dan di beberapa tempat terdapat jem batan alam (natural bridge). Tipe ini dicirikan terutama oleh kontrol hidrologi air panas sehingga terjadi proses pengendapan ulang larutan kalsit yang membentuk undak travertin yang beraneka ragam serta jarang dijumpai di tempat lain. &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;e. Tipe Semau &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;Tipe ini merupakan tipe kawasan kars yang melibatkan batugamping yang berumur muda (Kala Kwarter). Bentang alam yang dijumpai berupa rucutan (sink) dan lorong-lorongg gua yang pendek. &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;Undak-undak pantai yang disusun oleh koral dapat mencapai tebal 25-100 meter dan mengalami pengangkatan 2,5 cm/tahun. Tipe Semau dijumpai pada P. Semau sebelah barat Kupang, NTT. &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;f. Tipe Nusa Penida &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;p align="left"&gt;Pulau Nusa Penida yang terletak di sebelah selatan P. Bali memiliki kawasan karst yang tersusun atas batugamping klastik dan non klastik. Pada batugamping klastik terdapat sisipan batuan berukuran halus dan kedap air. Adanya perulangan jenis batuan menyebakan terjadi keluaran air tanah yang bertingkat. Bentan alam dolina dan bukit kerucu t tidak berkembang dengan baik. Gua-gua juga tidak berkembang dengan baik.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-3790845082276134430?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/3790845082276134430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=3790845082276134430' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/3790845082276134430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/3790845082276134430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/03/mengenal-tipe-bentang-alam-kars-di.html' title='MENGENAL TIPE BENTANG ALAM KARS DI INDONESIA'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-4868482317581093595</id><published>2008-03-06T03:45:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T03:47:32.264-08:00</updated><title type='text'>PBB Menetapkan Tahun 2009 Sebagai Tahun Astronomi Internasional</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://astronomy2009.org/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2007/12/iyalogosmall.jpg" style="border: 0px none ; margin: 0px 10px 0px 0px;" alt="iyalogosmall.jpg" align="left" /&gt;&lt;/a&gt;Hari ini, tepatnya tanggal 20 Desember 2007,   Sidang Umum &lt;a href="http://www.un.org/" target="_blank"&gt;PBB&lt;/a&gt; yang ke-62 di Paris menetapkan tahun 2009 sebagai &lt;a href="http://astronomy2009.org/" target="_blank"&gt;Tahun Astronomi Internasional / &lt;em&gt;International Year of Astronomy&lt;/em&gt; (IYA)&lt;/a&gt;.  IYA merupakan inisiatif dari &lt;a href="http://www.iau.org/" target="_blank"&gt;IAU&lt;/a&gt; (&lt;em&gt;International Astronomical Union&lt;/em&gt;) dan &lt;a href="http://www.unesco.org/" target="_blank"&gt;UNESCO&lt;/a&gt;, untuk merayakan dipergunakannya teleskop untuk pertama kali oleh Galileo. IYA 2009 sendiri merupakan moment 400 tahun dari penemuan - penemuan dalam astronomi dan pemicu revolusi sains yang juga mempengaruhi dunia. Hasilnya, saat ini teleskop landas bumi maupun angkasa beroperasi selama 24 jam sehari memberikan berbagai hasil spektakuler dalam berbagai panjang gelombang.&lt;span id="more-283"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut Presiden IAU, Catherine Cesarsky, ”IYA 2009 memberi seluruh bangsa kesempatan untuk berpartisipasi dalam revolusi sains dan teknologi.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tujuan dari IYA 2009 adalah untuk berbagi kegembiraan dalam penemuan-penemuan pribadi, kesenangan dalam berbagi pengetahuan dasar tentang alam semesta dan tempat tinggal manusia, serta berbagi hasil dari penelitian. Saat ini sudah ada 99 negara dan 14 organisasi yang berpartisipasi dalam IYA 2009. Organisasi yang terlibat merupakan jaringan organisasi pendidikan astronomi, kebudayaan dan para pendidik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Visi IYA 2009&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Visi IYA 2009 adalah untuk menolong masyarakat dunia untuk menemukan kembali tempatnya di alam semesta melalui langit. Dalam hal ini diharapkan seluruh umat manusia bisa menyadari pengaruh astronomi dan sains dasar dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga diharapkan masyarakat dunia dapat lebih memahami bagaimana pengetahuan dan sains berkontribusi untuk membangun masyarakat yang adil dan damai.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tujuan IYA 2009, adalah untuk menstimulasi ketertarikan dunia secara lebih luas, khususnya di kalangan anak muda terkait dengan astronomi dan sains, dalam sebuah tema&lt;em&gt;&lt;strong&gt; “The Universe, Yours to Discover”.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan IYA 2009 akan dilakukan secara global sampai dengan level regional, dan secara khusus di tingkat nasional maupun local. Untuk itu perwakilan setiap Negara telah dibentuk untuk mempersiapkan setiap kegiatan di negaranya. Dari Indonesia, ketua pelaksana IYA 2009 adalah Dr. Taufiq Hidayat, kepala Observatorium Bosscha. Perwakilan tersebut akan berkolaborasi dengan astronom amatir dan professional, pusat sains, pendidik, dan komunikator sains dalam mempersiapkan kegiatan sepanjang tahun 2009.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;sumber : IYA2009&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-4868482317581093595?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/4868482317581093595/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=4868482317581093595' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/4868482317581093595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/4868482317581093595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/03/pbb-menetapkan-tahun-2009-sebagai-tahun.html' title='PBB Menetapkan Tahun 2009 Sebagai Tahun Astronomi Internasional'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-523384591645455125</id><published>2008-03-06T03:42:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T03:44:09.904-08:00</updated><title type='text'>Menjadi Astronom</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Siapa saja yang disebut dengan astronom amatir? Semua orang yang punya rasa ingin tahu akan antariksa dan alam semesta sudah pantas disebut sebagai astronom amatir. Ketika seseorang memandang langit dan menyadari indahnya tatanan bintang yang dapat dibentuk-bentuk menjadi rasi, bulan yang menyinari langit malam dan jika beruntung dapat melihat meteor shower yang melintas, mereka yang menyadarinya adalah orang-orang yang telah masuk ke dalam dunia astronomi dan sangat pantas disebut sebagai&lt;strong&gt; astronom amatir&lt;/strong&gt;.&lt;span id="more-42"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Banyak sekali cara yang dapat ditempuh untuk mempelajari lebih jauh tentang antariksa. Salah satu cara menyenangkan yang dapat dilakukan oleh semua orang adalah &lt;strong&gt;mengenal rasi&lt;/strong&gt;. Dengan melihat susunan beberapa bintang dan mencocokkannya dengan peta langit, seseorang dapat menduga rasi yang dibentuk oleh bintang-bintang tersebut. Itulah cara pertama dari langkah yang sangat bermanfaat dalam mengenal keindahan langit lebih jauh. Dengan pengetahuan akan bagian-bagian langit, seseorang dengan alat yang tepat dapat mengeksplorasi lebih banyak keindahan seperti galaksi Andromeda yang berada pada wilayah rasi Andromeda, Nebula Orion atau M42 di rasi Orion dan masih banyak lainnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rasi sebagai panduan langit dapat diketahui dengan mudah dengan bantuan peta langit atau planesphere yang hanya seukuran kertas A4 atau bahkan ada yg lebih kecil. Di Indonesia hanya beberapa peta langit yang diproduksi dan biasanya dibagikan cuma-cuma, kebanyakan dari instansi yang memang bergerak untuk memasyarakatkan dan meneliti astronomi seperti planetarium dan observatorium.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-523384591645455125?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/523384591645455125/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=523384591645455125' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/523384591645455125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/523384591645455125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/03/menjadi-astronom.html' title='Menjadi Astronom'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-2586593845323311186</id><published>2008-03-06T03:39:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T03:42:03.092-08:00</updated><title type='text'>Mengenal Meteorit</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Serangan besar-besaran dari luar angkasa ke Bumi bukanlah hal asing. Setiap hari serangan dari luar angkasa selalu terjadi, tidak percaya? Dalam sehari sekitar 100 - 1.000 ton materi meteorit menghantam Bumi. Materi-materi yang berbentuk debu sampai dengan objek berukuran beberapa kilometer, bergerak memasuki Bumi dengan kecepatan lebih dari 11 km/det.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Objek-objek yang lebih besar lagi akan mengalami perlambatan setelah memasuki atmosfer Bumi, namun tetap saja akan menghantam Bumi dengan kecepatan tinggi. Atmosfer Bumi akan menyebabkan materi permukaannya meleleh dan kerak pun mulai terbentuk. Selain itu ada juga yang terpecah-pecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang kemudian berubah menjadi hujan meteor. Objek-objek yang kecil ini pada akhirnya bisa tiba di Bumi dengan selamat tanpa mengalami perubahan apapun.&lt;span id="more-17"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pembagian meteorit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal penemuan, meteorit terbagi  atas dua kelompok yakni &lt;em&gt;falls&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;finds.&lt;/em&gt; Kelompok&lt;em&gt;  falls&lt;/em&gt; adalah kelompok meteorit yang terlihat jatuh dan ditemukan sesaat  setelah kejatuhannya di permukaan Bumi. Sementara kelompok &lt;em&gt;finds&lt;/em&gt; merupakan kelompok objek yang ditemukan dan dikenali sebagai meteorit, yang telah jatuh di Bumi puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Meteorit besi jauh lebih banyak ditemukan dalam kelompok finds. Bagi para peneliti planet, meteorit yang paling berharga adalah golongan falls yang ditemukan segera setelah jatuh ke Bumi, karena kontaminasi yang alami akibat cuaca dan lingkungan masih sangat minim.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana sebuah objek dikenali sebagai meteorit?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebuah objek yang jatuh di Bumi tidak akan terlindungi dari pengaruh cuaca. Akibatnya, permukaan objek tersebut akan mengalami pengikisan sehingga pada akhirnya sulit dibedakan dari batuan di sekitarnya. Tetapi di sisi lain, bongkahan besar besi tidak sering ditemukan di permukaan Bumi. Jika ada objek besi yang rapat dan padat dengan penampakan yang gelap ditemukan, bisa dipastikan objek tersebut merupakan bongkahan batu meteorit. Selain itu, perubahan akibat pengaruh cuaca pada objek besi tidak akan sama dengan batuan biasa serta ia akan tetap mempertahankan kondisi aslinya dalam selang waktu yang lebih lama. Faktor-faktor yang dipakai untuk mengidentifikasi sebuah meteor adalah objek tersebut sejauh mungkin bisa mempertahankan penampakan dan kondisi aslinya serta bisa bertahan dalam lingkungannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada dua tipe daerah di mana meteorit &lt;em&gt;finds&lt;/em&gt; ini berada yakni, di gurun dan Antartika. Di gurun, proses perubahan akibat cuaca berlangsung dengan lambat sehingga meteorit akan dapat mempertahankan kondisi awalnya dalam waktu yang lama. Sementara itu di Antartika yang memiliki lapisan es yang tebal (sekitar beberapa km), objek silikat ataupun besi yang berada di dekat permukaan bisa dipastikan merupakan meteorit.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meteorite sendiri dibagi atas 3 kelas yakni stony meteorite , stony-iron  meteorites, dan iron meteorites.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Stony Meteorites (Meteorit Batuan)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh meteorites, 93% diantaranya adalah stony meteorites. Ada dua tipe utama dari stony meteorite - chondrites dan achondrites - yang memiliki perbedaan satu sama lainnya baik secara fisik maupun kimiawinya. Chondrules terbentuk dari batuan silikat cair, dan salah satu tipe penting dalam chondrite adalah carbonaceous chondrite. Meteorit tipe ini mengandung senyawa carbon, air, dan materi volatil lainnya dan memiliki warna yang agak gelap.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Achondrites tidak memiliki chondrules dan secara tampak tidak terlihat adanya logam atau sulfida logam. enampakannya juga mirip dengan batuan di permukaan bulan dan planet kebumian. Umur batuannya sekitar 4,5 miliar tahun, batuan yang lebih muda umurnya diperkirakan berasal dari materi yang dilontarkan dari permukaan Mars.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Stony-Iron Meteorites (Meteorit Batuan-Besi)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Meteorit jenis ini mengandung batuan dan besi dalam proporsi perbandingan yang hampir sama. Skenario paling memungkinkan bagi terbentuknya meteorit jenis ini adalah mereka terbentuk pada daerah pertemuan objek padat yang dingin. Pada daerah ini terdapat juga pemisahan antara logam dengan kerapatan tinggi dan batuan yang memiliki kerapatan lebih rendah. Salah satu tipe meteorit ini, mesosiderites, mengandng mineral yang stabil pada tekanan dibawah 3kbar. Ini menunjukkan meteorit jenis ini secara tidak langsung berasal dari objek yang masif.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Iron Meteorites (Meteorit Besi)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar meteorit  jenis ini terdiri dari campuran besi dan nikel yang berada dalam keadaan cair.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Batu-batu yang jatuh ke Bumi ini berasal dari berbagai tempat di Tata Surya dan merekalah yang menjadi salah satu sumber informasi penting untuk memperoleh gambaran yang lebih baik tentang keadaan dan apa saja yang ada pada objek induknya. Informasi mengenai objek induk dari meteorit diperoleh dengan menganalisis isotop oksigen dalam mineral yang ada di meteorit tersebut. Sebagian mineral hanya bisa terbentuk pada tekanan yang tinggi sementara sebagian lagi justru tidak stabil pada tekanan tinggi. Melalui informasi mineral bisa diketahui tempat dan kira-kira pada kondisi tekanan yang bagaimana sebuah meteorit terbentuk. Salah satu cara terbentuknya mineral pada tekanan tinggi yaitu ketika meteorit mengalami kejutan akibat tabrakan. Biasanya kondisi sebuah meteorit yang dihasilkan akibat tabrakan mudah untuk dikenali karena meninggalkan tanda pada batuan akibat tabrakan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan mempelajari kemiripan ataupun perbedaan yang ditemukan dalam materi terrestrial ini, bisa diperoleh informasi penting untuk mempelajari asal usul Bumi dan Tata Surya dalam hal ini untuk mengetahui materi-materi awal pembentukan planet.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;langitselatan.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-2586593845323311186?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/2586593845323311186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=2586593845323311186' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/2586593845323311186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/2586593845323311186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/03/mengenal-meteorit.html' title='Mengenal Meteorit'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-8001589381852233476</id><published>2008-03-06T03:37:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T03:39:31.445-08:00</updated><title type='text'>Petrofisik</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Petrofisik&lt;/b&gt; adalah salah satu cabang geofisika yang mempelajari tentang sifat fisik dari suatu &lt;span class="mw-redirect"&gt;batuan&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beberapa sifat fisik tersebut adalah :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Porositas (primer dan sekunder),&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Permeabilitas (absolut, relatif),&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tingkat kejenuhan Air (&lt;i&gt;water saturation&lt;/i&gt;)dan beberapa sifat fisik lainnya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mempelajari karakteristik fisik suatu batuan sangat penting karena kita akan lebih mengenal batuan yang akan kita amati tersebut. Di industri &lt;i&gt;oil &amp;amp; gas&lt;/i&gt; misalnya, sifat fisik batuan sangat penting dipelajari mengetahui karakter &lt;i&gt;reservoar&lt;/i&gt; (batuan tempat menyimpan hidrokarbon) sebagai batuan yang layak untuk dilakukan pengeboran ataupun perforasi (produksi) lebih lanjut&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-8001589381852233476?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/8001589381852233476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=8001589381852233476' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/8001589381852233476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/8001589381852233476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/03/petrofisik.html' title='Petrofisik'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-8881449498859414169</id><published>2008-03-06T03:34:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T03:37:18.672-08:00</updated><title type='text'>Mengenal Jenis Batuan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--judul--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;!-- article:start --&gt;Batuan terbentuk dari kombinasi dari satu atau lebih mineral yang biasanya terdiri dari unsur seperti oksigen, karbon, dan besi. Saat ini dikenal sekitar 3.000 jenis mineral yang berbeda di bumi. Berdasarkan kandungan mineral yang terdapat di dalamnya, teksturnya, serta strukturnya, batuan dibedakan menjadi tiga jenis. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Pertama, batuan bekuan tercipta sebagai hasil proses pendinginan bahan cair pijar yang berasal dari dalam bumi (magma). Batu jenis ini biasanya berbentuk hablur, tidak berlapis-lapis, dan tidak mengandung fosil. Berdasarkan cara terjadinya, batuan jenis ini terbagi atas batuan beku plutonik dan vulkanik. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Batuan beku plutonik berada di bawah kerak bumi dan berproses secara perlahan-lahan sehingga terjadi hablur yang mudah terlihat. Diorit, granit, dan gabro adalah batuan jenis ini. Sementara itu, batuan beku vulkanik berasal dari lava gunung berapi yang terlempar ke permukaan bumi, kemudian membeku sehingga memiliki hablur halus. Basal, obsidian, dan andesit adalah jenis batuan beku vulkanik yang banyak dijumpai. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Ciri khas batuan bekuan adalah keras dan kokoh sehingga biasanya digunakan sebagai bahan bangunan atau nisan kuburan.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Kedua, batuan endapan merupakan hasil proses pengendapan rombakan batuan yang diangkut oleh air (sungai) dan terendapkan pada suatu cekungan seperti laut, danau, sungai, atau rawa. Oleh sebab itu, batuan jenis ini biasanya berlapis-lapis dengan ketebalan yang berbeda, mulai dari beberapa sentimeter hingga beberapa meter. Batuan jenis ini tidak berhablur dan seringkali mengandung fosil binatang atau tumbuhan. Karena cara terbentuknya yang unik, batuan jenis ini biasanya dibedakan berdasarkan umurnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Menurut asal kejadiannya, batuan endapan terbagi atas batuan endapan mekanik yang terjadi akibat percampuran bahan-bahan yang terkumpul, batu endapan organik yang terbuat dari fosil hewan atau tumbuhan, dan batuan endapan kimia yang terjadi akibat endapan yang terjadi secara kimiawi. Batu pasir, batu kapur, zeolit, batu bara, dan lempung adalah beberapa jenis batuan yang masuk dalam jenis ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Ketiga, batuan malihan atau metamorf berasal dari batuan bekuan dan batuan endapan yang terubah susunan mineralnya atau batuan malihan yang terubah ulang. Pemalihan susunan mineral disebabkan karena tekanan gerakan bumi dan mendapat panas yang sangat tinggi saat terjadi pergerakan bumi. Batuan jenis ini memiliki tekstur yang sangat padat dan kedap air. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Suhu yang dibutuhkan untuk menciptakan batuan malihan 100-800 derajat Celsius. Dalam suhu setinggi ini batuan melembut sehingga mengubah susunan mineralnya. Dengan cara ini batu kapur berubah menjadi batu marmer, batu pasir menjadi kuarzit, batu granit menjadi genes, arang batu menjadi grafit, dan grafit menjadi berlian. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Kalau Anda ingin lebih jauh mengenal bermacam-macam batuan dan mineral yang ada di bumi, cobalah kunjungi Museum Geologi di Jalan Diponegoro No. 57, Bandung, yang terletak di dekat Gedung Sate. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Di ruang Geologi Indonesia, yang berada di sayap barat lantai satu, para pengunjung bakal disuguhi peragaan proses terjadinya bumi, perkembangan pembentukan Kepulauan Indonesia, serta koleksi ratusan ribu bebatuan. Tak hanya itu, di tempat ini kita juga bisa menyaksikan fosil-fosil beberapa hewan purba. Salah satu koleksi kebanggaan museum ini adalah stegodon atau gajah purba yang memiliki gading melengkung. Fosil hewan yang pernah hidup ribuan tahun silam ini ditemukan di sekitar aliran di Sungai Bengawan Solo. &lt;b&gt;maya/berbagai sumber korantempo&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-8881449498859414169?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/8881449498859414169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=8881449498859414169' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/8881449498859414169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/8881449498859414169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/03/mengenal-jenis-batuan.html' title='Mengenal Jenis Batuan'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-3077198297559130186</id><published>2008-02-09T13:21:00.000-08:00</published><updated>2008-02-09T13:23:51.911-08:00</updated><title type='text'>Earthquake</title><content type='html'>&lt;p&gt;Earthquakes occur when energy stored in elastically strained rocks is suddenly released. This release of energy causes intense ground shaking in the area near the source of the earthquake and sends waves of elastic energy, called seismic waves, throughout the Earth. Earthquakes can be generated by bomb blasts, &lt;a href="http://www.earthsci.org/processes/geopro/volc/volc.html"&gt;volcanic eruptions&lt;/a&gt;, and sudden slippage along faults. Earthquakes are definitely a geologic hazard for those living in earthquake prone areas, but the &lt;a href="http://www.earthsci.org/processes/geopro/seismic/seismic.html"&gt;seismic waves&lt;/a&gt; generated by earthquakes are invaluable for studying the interior of the Earth. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="OriginofEarthquakes"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Origin of Earthquakes &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://www.earthsci.org/education/teacher/basicgeol/earthq/elastreb.gif" alt="elastreb.gif" style="width: 303px; height: 231px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Most natural earthquakes are caused by sudden slippage along a &lt;a href="http://www.earthsci.org/processes/struct/fault/normal.gif"&gt;fault zone&lt;/a&gt;. The elastic rebound theory suggests that if slippage along a &lt;a href="http://www.earthsci.org/processes/geopro/seismic/faults2.gif"&gt;fault &lt;/a&gt;is hindered such that elastic strain energy builds up in the deforming rocks on either side of the fault, when the slippage does occur, the energy released causes an earthquake. This theory was discovered by making measurements at a number of points across a fault. Prior to an earthquake it was noted that the rocks adjacent to the fault were bending. These bends disappeared after an earthquake suggesting that the energy stored in bending the rocks was suddenly released during the earthquake.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a name="SeismologyTheStudyofEarthquakes"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seismology, The Study of Earthquakes &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.earthsci.org/education/teacher/basicgeol/earthq/seismograph.gif" alt="seismograph.gif" style="width: 401px; height: 261px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;When an earthquake occurs, the elastic energy is released and sends out vibrations that travel throughout the Earth. These vibrations are called seismic waves. The study of how seismic waves behave in the Earth is called seismology.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;Seismographs - Seismic waves travel through the Earth as vibrations. A seismometer is an instrument used to record these vibrations and the resulting graph that shows the vibrations is called a seismograph. The seismometer must be able to move with the vibrations, yet part of it must remain nearly stationary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is accomplished by isolating the recording device (like a pen) from the rest of the Earth using the principal of inertia. For example, if the pen is attached to a large mass suspended by a spring, the spring and the large mass move less than the paper which is attached to the Earth, and on which the record of the vibrations is made.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://www.earthsci.org/education/teacher/basicgeol/earthq/eqfocus.gif" alt="eqfocus.gif" style="width: 326px; height: 190px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;"&gt;Seismic Waves &lt;a href="http://www.earthsci.org/freeware/freewar.html"&gt;(freeware simulation 3.39Megs)&lt;/a&gt;. The source of an earthquake is called the focus, which is an exact location within the Earth were seismic waves are generated by sudden release of stored elastic energy. The epicenter is the point on the surface of the Earth directly above the focus. Sometimes the media get these two terms confused. Seismic waves emanating from the focus can travel in several ways, and thus there are several different kinds of seismic waves. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="Types of Seismic Waves"&gt;&lt;/a&gt;Types of Seismic Waves&lt;/p&gt;&lt;div type="circle"&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt; Body Waves - emanate from the focus and &lt;a href="http://www.earthsci.org/processes/struct/earth/erays.gif"&gt;travel in all directions through the body of the Earth.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div type="circle"&gt; There are two types of body waves: &lt;/div&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://www.earthsci.org/education/teacher/basicgeol/earthq/seismicwaves.jpg" alt="seismicwaves.jpg" style="width: 352px; height: 242px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/center&gt; &lt;center&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.earthsci.org/processes/geopro/seismic/pwaves.gif"&gt;P - waves - are Primary waves&lt;/a&gt;. They travel with a velocity that depends on the elastic properties of the rock through which they travel. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; Vp = Ö [(K + 4/3m )/r ]&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Where, Vp is the velocity of the P-wave, K is the incompressibility of the material, m is the rigidity of the material, and r is the density of the material. &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt; &lt;li style="text-align: left; margin-left: 40px;"&gt;&lt;a href="http://www.earthsci.org/processes/geopro/seismic/swaves.gif"&gt;S-Waves - Secondary waves&lt;/a&gt;, also called shear waves. They travel with a velocity that depends only on the rigidity and density of the material through which they travel:&lt;/li&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; Vs = Ö [( m )/r ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt; S-waves travel through material by shearing it or changing its shape in the direction perpendicular to the direction of travel. The resistance to shearing of a material is the property called the rigidity. It is notable that liquids have no rigidity, so that the velocity of an S-wave is zero in a liquid. (This point will become important later). Note that S-waves travel slower than P-waves, so they will reach a seismograph after the P-wave.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.earthsci.org/processes/geopro/seismic/waves.gif"&gt;Surface Waves&lt;/a&gt; - Surface waves differ from body waves in that they do not travel through the Earth, but instead travel along paths nearly parallel to the surface of the Earth. Surface waves behave like S-waves in that they cause up and down and side to side movement as they pass, but they travel slower than S-waves and do not travel through the body of the Earth.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.earthsci.org/education/teacher/basicgeol/earthq/sgraph.gif" alt="sgraph.gif" style="width: 475px; height: 275px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;li style="margin-left: 40px;"&gt;The record of an earthquake, a seismograph, as recorded by a seismometer, will be a plot of vibrations versus time. On the seismograph, time is marked at regular intervals, so that we can determine the time of arrival of the first P-wave and the time of arrival of the first S-wave. &lt;/li&gt; &lt;li style="margin-left: 40px;"&gt; P-waves are the same thing as sound waves. They move through the material by compressing it, but after it has been compressed it expands, so that the wave moves by compressing and expanding the material as it travels. Thus the velocity of the P-wave depends on how easily the material can be compressed (the incompressibility), how rigid the material is (the rigidity), and the density of the material. P-waves have the highest velocity of all seismic waves and thus will reach all seismographs first. &lt;/li&gt; &lt;li style="margin-left: 40px;"&gt;Because P-waves have a higher velocity than S-waves, the P-waves arrive at the seismographic station before the S-waves.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;   &lt;p&gt;&lt;a name="LocationofEarthquakes"&gt;&lt;/a&gt;Location of Earthquakes &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.earthsci.org/education/teacher/basicgeol/earthq/travtime.gif" alt="travtime.gif" style="width: 363px; height: 533px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;Location of Earthquakes - In order to determine the location of an earthquake, we need to have recorded a seismograph of the earthquake from at least &lt;a href="http://www.earthsci.org/processes/struct/earth/eq-loc.gif"&gt;three seismographic stations &lt;/a&gt;at different distances from the epicenter of the quake. In addition, we need one further piece of information - that is the time it takes for P-waves and S-waves to travel through the Earth and arrive at a seismographic station. Such information has been collected over the last 80 or so years, and is available as travel time curves.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.earthsci.org/education/teacher/basicgeol/earthq/eqloc.jpg" alt="eqloc.gif" style="width: 403px; height: 310px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;From the seismographs at each station one determines the S-P interval (the difference in the time of arrival of the first S-wave and the time of arrival of the first P-wave. Note that on the travel time curves, the S-P interval increases with increasing distance from the epicenter. Thus the S-P interval tells us the distance to the epicenter from the seismographic station where the earthquake was recorded. Thus at each station we can draw a circle on a map that has a radius equal to the distance from the epicenter.&lt;br /&gt;Three such circles will intersect in a point that locates the epicenter of the earthquake. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-3077198297559130186?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/3077198297559130186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=3077198297559130186' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/3077198297559130186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/3077198297559130186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/02/earthquake.html' title='Earthquake'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125340832596623789.post-2274884816387715552</id><published>2008-02-09T13:09:00.000-08:00</published><updated>2008-02-09T13:11:20.877-08:00</updated><title type='text'>Geology is the study of the Earth and its history</title><content type='html'>*  Geologic Processes effect every human on the Earth all of the time, but are most noticeable when they cause loss of life or property. Such life or property threatening processes are called natural disasters. Among them are:&lt;br /&gt;          o Earthquakes&lt;br /&gt;          o Eruptions of Volcanoes&lt;br /&gt;          o Tsunamis&lt;br /&gt;          o Landslides&lt;br /&gt;          o Subsidence&lt;br /&gt;          o Floods&lt;br /&gt;          o Droughts&lt;br /&gt;          o Hurricanes&lt;br /&gt;          o Tornadoes&lt;br /&gt;          o Meteorite Impacts&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# All of these processes have existed throughout Earth history, but the processes have become hazardous only because they negatively affect us as human beings.  Important Point - There would be no natural disasters if it were not for humans.  Without humans these are only natural events.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#   Risk is characteristic of the relationship between humans and geologic processes.   We all take risks everyday. The risk from natural disasters, while it cannot be eliminated, can, in some cases be understood in a such a way that we can minimize the hazard to humans, and thus minimize the risk.  To do this, we need to understand something about the processes that operate, and understand the energy required for the process.  Then, we can develop an action to take to minimize the risk. Such minimization of risk is called hazard mitigation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although humans can sometimes influence natural disasters (for example when road construction sets off a landslide), other disasters that are directly generated by humans, such as oil and toxic material spills, pollution, massive automobile or train wrecks, airplane crashes, and human induced explosions, are considered technological disasters, and will not be considered in this course.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;# Some of the questions we hope to answer for each possible natural disaster are:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Where is each type of disaster likely to occur and why?&lt;br /&gt;    * How often do these disasters occur?&lt;br /&gt;    * How can each type of disaster be predicted and/or mitigated?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Earth in the Solar System&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Solar System&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * The Earth is one of nine planets in the solar system&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *   In addition to the planets, many smaller bodies called asteroids, comets, meteoroids are present.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *   All objects in the solar system orbit around the Sun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *   The four planets closest to the Sun (Mercury, Venus, Earth, and Mars) have high densities because they are mostly composed of rock, and are called the Terrestrial Planets.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The five planets outside the orbit of Mars (Jupiter, Saturn, Uranus, Neptune, and Pluto) have low densities because they mostly composed of gases, and are called the Jovian Planets.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Origin of the Solar System&lt;br /&gt;          o Original Solar Nebula&lt;br /&gt;          o Condensation of the Sun about 6 billion years ago&lt;br /&gt;          o Condensation of the Planets about 4.5 billion years ago.&lt;br /&gt;          o Process is continuing today, although at a much slower rate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      The Planet Earth&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Comparisons Between Earth and the Other Planets&lt;br /&gt;          o Earth similar in size density and structure to the terrestrial planets (all have metallic core, high density, composed of rock, with thin to non-existent atmosphere.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          o   Earth is the only planet with an atmosphere composed of Nitrogen, Oxygen, Carbon Dioxide, and Water Vapor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          o   Earth is the only planet that has a hydrosphere, a region on the surface where water can exist in liquid, vapor and solid forms. This is due to the Temperature on the Earth's surface that usually remains between the freezing point of water, 0oC, and the boiling point of water, 100oC. Temperature on the Earth is controlled by the distance from the Sun and by the atmosphere of the Earth, which tends to moderate temperature variation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          o   Earth is the only planet with a biosphere, (life sphere) which is made up of all living matter. The biosphere exists because of the Earth's temperature, and because of the atmosphere. Oxygen is present in the atmosphere because of the biosphere.&lt;br /&gt;          o Earth is the only planet with a regolith. Regolith is a thin covering of loose rock debris that has formed as a result of a process called weathering. Weathering is the mechanical and chemical response of interactions between the rocks of the Earth and its hydrosphere, atmosphere, and biosphere. While other planets have something resembling regolith, most formed as a result of meteorite impacts which have mechanically broken the surface into loose fragments of rock. The Earth is unique in that other processes have occurred to produce a more varied regolith.&lt;br /&gt;      Interior Structure of Earth&lt;br /&gt;          o The Earth has a radius of about 6371 km, although it is about 22 km larger at equator than at poles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          o   Density, (mass/volume), Temperature, and Pressure increase with depth in the Earth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          o The Earth has a layered structure. This layering can be viewed in two different ways (1) Layers of different chemical composition and (2) Layers of differing physical properties.&lt;br /&gt;    * Compositional Layering&lt;br /&gt;          o Crust - variable thickness and composition&lt;br /&gt;                + Continental 10 - 70 km thick&lt;br /&gt;                + Oceanic 8 - 10 km thick&lt;br /&gt;          o Mantle - 3488 km thick, made up of a rock called peridotite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;                + Core  - 2883 km radius, made up of Iron (Fe) and small amount of Nickel (Ni)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125340832596623789-2274884816387715552?l=duniageologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duniageologi.blogspot.com/feeds/2274884816387715552/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125340832596623789&amp;postID=2274884816387715552' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/2274884816387715552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125340832596623789/posts/default/2274884816387715552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duniageologi.blogspot.com/2008/02/geology-is-study-of-earth-and-its.html' title='Geology is the study of the Earth and its history'/><author><name>Webmaster</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
